Teknis Budidaya Ikan Bawal Dengan Teknologi Organik NASA


Ikan Bawal (Colossoma macropomum) termasuk salah satu komoditas perikanan darat yang cukup digemari masyarakat karena ikan bawal memiliki daging yang tebal dengan rasa yang lezat dan tulangnya sedikit. Ada dua macam bawal yang dikenal masyarakat yakni bawal laut dan bawal air tawar. Memiliki kemiripan bentuk seperti badan yang pipih, bulat dan warna kulit perak keabu-abuan, ekor bercagak, dan bersisik halus membuat masyarakat menyebutnya sebagai ikan yang sama, yakni ikan bawal. Padahal kedua ikan ini merupakan jenis ikan yang berbeda.

Ikan bawal air tawar berasal dari sungai Amazon Brazil yang telah diintroduksi ke Indonesia tahun 1980 oleh importir ikan hias sebagai salah satu komoditas perikanan yang bernilai ekonomis cukup tinggi. Pada awalnya ikan bawal diperdagangkan sebagai ikan hias, namun dalam perkembangannya oleh masyarakat dipelihara sebagai ikan konsumsi karena pertumbuhannya cepat dan dapat mencapai ukuran besar, nafsu makan tinggi serta termasuk pemakan segalanya (omnivora) yang cenderung memakan dedaunan dan memiliki ketahanan yang tinggi terhadap kondisi limnologis yang kurang baik. Walaupun ketenaran ikan bawal belum dapat disejajarkan dengan komoditas perikanan lainnya, namun permintaan konsumen setiap tahunnya terus meningkat, baik untuk konsumsi dalam negeri maupun ekspor. Maka tak heran, bila dimasa yang akan datang akan menjadi komoditas perikanan darat unggulan seperti jenis-jenis ikan lainnya. Peningkatan sistem budidaya juga harus diikuti dengan penggunaan teknologi baru. PT. NATURAL NUSANTARA memberikan teknologi yang diperlukan dengan prinsip K-3 (Kuantitas, Kualitas dan Kesehatan).
Persiapan Kolam
Kolam budidaya ikan bawal dipersiapkan seperti halnya persiapan kolam ikan air tawar lainnya. Persiapan kolam dimaksudkan untuk menumbuhkan makanan alami dalam jumlah yang cukup dan membuat nyaman untuk pertumbuhan ikan.

1. Mula-mula kolam dikeringkan sehingga tanah dasarnya benar-benar kering. Tujuan pengeringan tanah dasar antara lain :
  • Membasmi ikan-ikan liar yang bersifat predator atau kompetitor (penyaing makanan).
  • Mengurangi senyawa-senyawa asam sulfida (H2S) dan senyawa beracun lainnya yang terbentuk selama kolam terendam.
  • Memungkinkan terjadinya pertukaran udara (aerasi) di dasar kolam, dalam proses ini gas-gas oksigen (02) mengisi celah-celah dan pori-pori tanah.
2. Sambil menunggu tanah dasar kolam kering, pematang kolam diperbaiki dan diperkuat untuk menutup kebocoran-kebocoran yang ada.

3. Setelah dasar kolam benar-benar kering dasar kolam perlu dikapur dengan kapur tohor maupun dolomit dengan dosis 25 kg per 100 m2. Hal ini untuk meningkatkan pH tanah, juga dapat untuk membunuh hama maupun patogen yang masih tahan terhadap proses pengeringan.

4. Kolam pembesaran tidak mutlak harus dipupuk. Ini dikarenakan makanan ikan bawal sebagian besar diperoleh dari makanan tambahan atau buatan. Tapi bila dipupuk dapat menggunakan pupuk kandang 25 - 50 kg/100 m2 dan TSP 3 kg/100 m2. Pupuk kandang yang digunakan harus benar-benar yang sudah matang, agar tidak menjadi racun bagi ikan.

5. Setelah pekerjaan pemupukan selesai, kolam diisi air setinggi 2-3 cm dan dibiarkan selama 2-3 hari, kemudian air kolam ditambah sedikit demi sedikit sampai kedalaman awal 40-60 cm dan terus diatur sampai ketinggian 80-120 cm tergantung kepadatan ikan. Jika warna air sudah hijau terang, baru benih ikan ditebar (biasanya 7-10 hari setelah pemupukan). Pemupukan yang tepat adalah dengan pupuk TON (TAMBAK ORGANIK NUSANTARA) yang mengandung berbagai unsur mineral penting untuk pertumbuhan plankton, diantaranya N,P,K,Mg, Ca, Mg, S, Cl dan lain-lain, juga dilengkapi dengan asam humat dan vulvat yang mempu memperbaiki tekstur dan meningkatkan kesuburan tanah dasar kolam dengan dosis 6 kg TON/ha atau 25 gr (2 sendok makan)/100 m2 pada tiap pemasukan air.
   
Pemilihan dan Penebaran Benih
Pemilihan benih mutlak penting, karena hanya dengan benih yang baik ikan akan hidup dan tumbuh dengan baik. Adapun ciri-ciri benih yang baik antara lain sehat, anggota tubuh lengkap, aktif bergerak, ukurannya seragam, tidak cacat, tidak membawa penyakit, dan bibit jenis unggul.
Cara penebaran benih ikan bawal yang baik yaitu sebelum benih ditebar perlu diadaptasikan, dengan tujuan agar benih ikan tidak dalam kondisi stress saat berada dalam kolam. Cara adaptasi : ikan yang masih terbungkus dalam plastik yang masih tertutup rapat dimasukan kedalam kolam, biarkan sampai dinding plastik mengembun. Ini tandanya air kolam dan air dalam plastik sudah sama suhunya, setelah itu dibuka plastiknya dan air dalam kolam masukkan sedikit demi sedikit kedalam plastik tempat benih sampai benih terlihat dalam kondisi baik. Selanjutnya benih ditebar dalam kolam secara perlahan-lahan.

Secara umum ikan bawal lebih bagus dibudidaya dengan debit air yang cukup deras, sehingga kolam di tepian laut atau membuat kolam air deras dari aliran air sungai sangat bagus untuk mempercepat pertumbuhan. Meskipun demikian, bawal bisa saja dibudidaya di kolam air tenang, hanya saja pertumbuhannya kurang bagus.


Pembesaran ikan bawal merupakan salah satu bagian budidaya ikan air tawar yang sangat berpengaruh terhadap nilai jual produk ikan di pasaran. Tingkat kelangsungan hidup ikan bawal air tawar cukup tinggi, sekitar 90%. Bahkan, ikan bawal ini mampu bertahan hidup dalam kolam yang tingkat kepadatannya tinggi. Makannya pun tidak rewel sebab hewan berjenis omnivora ini memiliki nafsu makan yang sangat besar. Kualitas dan kuantitas pakan sangat penting dalam budidaya ikan, karena hanya dengan pakan yang baik ikan dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan yang kita inginkan. Kualitas pakan yang baik adalah pakan yang mempunyai gizi yang seimbang baik protein, karbohidrat maupun lemak serta vitamin dan mineral. Karena ikan bawal bersifat omnivora maka makanan yang diberikan bisa berupa daun-daunan maupun berupa pellet. Pakan diberikan 3-5 % berat badan (perkiraan jumlah total berat ikan yang dipelihara). Pemberian pakan dapat ditebar secara langsung. Pemberian pakan dengan menyebarkan secara merata pada seluruh areal kolam, agar seluruh ikan bawal dapat pakan. Penambahan POC NASA + viterna dan hormonik pada pakan buatan merupakan pilihan yang tepat untuk meningkatkan pertumbuhan dan ketahanan tubuh bandeng. POC NASA + viterna dan hormonik mengandung mineral-mineral penting, protein, lemak , zat pengatur tumbuh dan vitamin akan menambah kandungan nutrisi pakan.


Dosis pencampuran POC NASA , viterna dan hormonik dengan pakan buatan adalah, campur poc nasa, viterna dan hormonik jadi satu, kemudian ambil satu tutup campur dengan sedikit air campur/ semprotkan untuk 2,5kg pakan sampe merata, kemudian angin-anginkan sampe agak kering biar nutrisi meresap di pakan buatan, pakan siap di berikan.

Manfaat VITERNA ,POC NASA, HORMONIK

  • VITERNA Plus menggunakan teknologi asam amino yang diciptakan dengan pendekatan fisiologis tubuh ikan, yaitu dengan meneliti berbagai nutrisi yang dibutuhkan ikan.
  • POC NASA yang mengandung berbagai mineral penting untuk pertumbuhan ikan, seperti N, P, K, Ca, Mg, Fe dan lain-lain serta dilengkapi protein dan lemak nabati, mampu meningkatkan pertumbuhan bobot harian ikan, meningkatkan ketahanan tubuh ikan, mengurangi kadar kolesterol daging. Sedangkan 
  • HORMONIK lebih berfungsi sebagai zat pengatur tumbuh bagi ikan. Di mana formula ini akan sangat membantu meningkatkan pertumbuhan ikan secara keseluruhan.

Ikan bawal juga memiliki daya cerna makanan yang baik. Selain bisa diberi pakan alami, bawal bisa diberikan pakan buatan dengan kandungan protein rendah sekitar 20% yang harganya lebih murah. Perbandingan kebutuhan pakan hingga panen,  dari 1 kg pakan yang diberikan dapat menghasilkan daging bawal sebanyak 0,7-0,8 kg (FCR = 0,7 - 0,8). Ini menunjukkan pemberian pakan buatan budidaya bawal sangat efektif dan cukup efisien sehingga sangat menguntungkan secara ekonomis.

Untuk mengatasi penurunan kualitas air kolam pemeliharaan ikan bawal dapat dilakukan pemberian TON dengan dosis 5 botol/ha atau 25 gr (2 sendok makan)/100 m2. TON merupakan produk NASA mengandung unsur mineral dan asam-asam organik penting yang mampu menetralkan berbagai gas berbahaya hasil pembusukan kotoran dalam kolam dan unsur mineral akan menyuburkan plankton sebagai pakan alami.

Hasil usaha pembesaran ikan  bawal dapat dilakukan panen setelah ikan bawal dipelihara 4-6 bulan atau telah mencapai ukuran sekitar 500 gram/ekor dengan kepadatan tebar bibit 4 ekor/m2. Biasanya alat yang digunakan panen berupa waring bemata lebar. Ikan bawal hasil pemanenan sebaiknya ditempatkan di penampungan yang besar ukurannya dan diletakkan di perairan  yang airnya selalu mengalir sehingga ikan tidak mati dan rusak sebelum dilakukan pengankutan dari kolam.

Penyakit
Penyakit yang pernah ditemukan pada ikan bawal air tawar dapat disebabkan oleh:
1) Parasit/virus
Penyakit white spot (bintik putih) atau “Ich",  karena virus yang sering datang saat musim hujan yang dapat ditangani dengan memberikan garam dalam kolam atau disebabkan suhu air kolam pemeliharaan dingin, cara mengatasinya yaitu dengan menaikkan suhu sampai kurang lebih 29 oC dengan cara penurunan tinggi air kolam dan pemberian formalin 25 ppm di air kolam pemeliharaannya.

2) Bakteri
Streptococus sp. dan Kurthia sp. cara mengatasinya yaitu dengan menggunakan antibiotik tetrasiklin dengan dosis 10 ppm.

3) Kapang (Jamur)
Jamur ini merupakan akibat dari adanya luka yang disebabkan penanganan (handling) yang kurang hati-hati. Cara mengatasinya dengan menggunakan Kalium Permanganat (PK) dengan dosis 2-3 ppm.


Paket Pupuk Budidaya Kelapa Sawit Organik Nasa (Supernasa + Power Nutrition + Pocnasa + Hormonik)



Paket Pupuk Budidaya Kelapa Sawit Organik Nasa (Supernasa + Power Nutrition + Pocnasa + Hormonik)

Harga Rp 196.000

Berat 1.850 gram (1,85 kg)

ISI PAKET
1 BOTOL POER NUTRITION 250 gram
1 BOTOL SUPERNASA 250 gram
1 BOTOL POCNASA 500 cc
1 BOTOL HORMONIK 100 cc

BELI LANGSUNG HUBUNGI

HP : 85225744577

BBM : PIN 5B62EFEB




MANUAL PUPUK NASA SUPERNASA




MANUAL HORMONIK


VIDEO TUTORIAL BUDIDAYA KELAPA SAWIT








VIDEO UJICOBA SUPERNASA





TONTON VIDEO


TEKNIS BUDIDAYA KELAPA SAWIT

I. PENDAHULUAN
Agribisnis kelapa sawit (Elaeis guineensis Jacq.), baik yang berorientasi pasar lokal maupun global akan berhadapan dengan tuntutan kualitas produk dan kelestarian lingkungan selain tentunya kuantitas produksi. PT. Natural Nusantara berusaha berperan dalam peningkatan produksi budidaya kelapa sawit secara Kuantitas, Kualitas dan tetap menjaga Kelestarian lingkungan (Aspek K-3). 

II. SYARAT PERTUMBUHAN

2.1. Iklim
Lama penyinaran matahari rata-rata 5-7 jam/hari. Curah hujan tahunan 1.500-4.000 mm. Temperatur optimal 24-280C. Ketinggian tempat yang ideal antara 1-500 m dpl. Kecepatan angin 5-6 km/jam untuk membantu proses penyerbukan. 

2.2. Media Tanam
Tanah yang baik mengandung banyak lempung, beraerasi baik dan subur. Berdrainase baik, permukaan air tanah cukup dalam, solum cukup dalam (80 cm), pH tanah 4-6, dan tanah tidak berbatu. Tanah Latosol, Ultisol dan Aluvial, tanah gambut saprik, dataran pantai dan muara sungai dapat dijadikan perkebunan kelapa sawit. 

III. PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA

3.1. Pembibitan

3.1.1. Penyemaian

Kecambah dimasukkan polibag 12x23 atau 15x23 cm berisi 1,5-2,0 kg tanah lapisan atas yang telah diayak. Kecambah ditanam sedalam 2 cm. Tanah di polibag harus selalu lembab. Simpan polibag di bedengan dengan diameter 120 cm. Setelah berumur 3-4 bulan dan berdaun 4-5 helai bibit dipindahtanamkan.
Bibit dari dederan dipindahkan ke dalam polibag 40x50 cm setebal 0,11 mm yang berisi 15-30 kg tanah lapisan atas yang diayak. Sebelum bibit ditanam, siram tanah dengan POC NASA 5 ml atau 0,5 tutup per liter air. Polibag diatur dalam posisi segitiga sama sisi dengan jarak 90x90 cm.

3.1.2. Pemeliharaan Pembibitan
Penyiraman dilakukan dua kali sehari. Penyiangan 2-3 kali sebulan atau disesuaikan dengan pertumbuhan gulma. Bibit tidak normal, berpenyakit dan mempunyai kelainan genetis harus dibuang. Seleksi dilakukan pada umur 4 dan 9 bulan. 

Pemupukan pada saat pembibitan sebagai berikut :

Pupuk Makro
15-15-6-4 ... Minggu ke 2 & 3 (2 gram); minggu ke 4 & 5 (4gr); minggu ke 6 & 8 (6gr); minggu ke 10 & 12 (8gr)
12-12-17-2 ... Mingu ke 14, 15, 16 & 20 (8 gr); Minggu ke 22, 24, 26 & 28 (12gr), minggu ke 30, 32, 34 & 36 (17gr), minggu ke 38 & 40 (20gr).
12-12-17-2 ... Minggu ke 19 & 21 (4gr); minggu ke 23 & 25 (6gr); minggu ke 27, 29 & 31 (8gr)

POC NASA ... Mulai minggu ke 1 – 40 (1-2cc/lt air perbibit disiramkan 1-2 minggu sekali).

Catatan : Akan Lebih baik pembibitan diselingi/ditambah SUPER NASA 1-3 kali dengan dosis 1 botol untuk + 400 bibit. 1 botol SUPER NASA diencerkan dalam 4 liter (4000 ml) air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap 1 liter air diberi 10 ml larutan induk tadi untuk penyiraman 

3.2. Teknik Penanaman

3.2.1. Penentuan Pola Tanaman
Pola tanam dapat monokultur ataupun tumpangsari. Tanaman penutup tanah (legume cover crop LCC) pada areal tanaman kelapa sawit sangat penting karena dapat memperbaiki sifat-sifat fisika, kimia dan biologi tanah, mencegah erosi, mempertahankan kelembaban tanah dan menekan pertumbuhan tanaman pengganggu (gulma). Penanaman tanaman kacang-kacangan sebaiknya dilaksanakan segera setelah persiapan lahan selesai.

3.2.2. Pembuatan Lubang Tanam
Lubang tanam dibuat beberapa hari sebelum tanam dengan ukuran 50x40 cm sedalam 40 cm. Sisa galian tanah atas (20 cm) dipisahkan dari tanah bawah. Jarak 9x9x9 m. Areal berbukit, dibuat teras melingkari bukit dan lubang berjarak 1,5 m dari sisi lereng. 

3.2.3. Cara Penanaman
Penanaman pada awal musim hujan, setelah hujan turun dengan teratur. Sehari sebelum tanam, siram bibit pada polibag. Lepaskan plastik polybag hati-hati dan masukkan bibit ke dalam lubang. Taburkan Natural GLIO yang sudah dikembangbiakkan dalam pupuk kandang selama + 1 minggu di sekitar perakaran tanaman. Segera ditimbun dengan galian tanah atas. Siramkan POC NASA secara merata dengan dosis ± 5-10 ml/ liter air setiap pohon atau semprot (dosis 3-4 tutup/tangki). Hasil akan lebih bagus jika menggunakan SUPER NASA. Adapun cara penggunaan SUPER NASA adalah sebagai berikut: 1 botol SUPER NASA diencerkan dalam 2 liter (2000 ml) air dijadikan larutan induk. Kemudian setiap 1 liter air diberi 10 ml larutan induk tadi untuk penyiraman setiap pohon. 

3.3. Pemeliharaan Tanaman

3.3.1. Penyulaman dan Penjarangan
Tanaman mati disulam dengan bibit berumur 10-14 bulan. Populasi 1 hektar + 135-145 pohon agar tidak ada persaingan sinar matahari. 

3.3.2. Penyiangan
Tanah di sekitar pohon harus bersih dari gulma. 

3.3.3. Pemupukan

Anjuran pemupukan sebagai berikut : 
Pupuk Makro 

Urea    
Bulan ke 6, 12, 18, 24, 30 & 36 ..... 225 kg/ha
Bulan ke 42, 48, 54, 60 dst ... 1000 kg/ha

TSP
Bulan ke 6, 12, 18, 24, 30 & 36 ... 115 kg/ha
Bulan ke 48 & 60 ... 750 kg/ha

MOP/KCl
Bulan ke 6, 12, 18, 24, 30 & 36 ... 200 kg/ha
Bulan ke 42, 48, 54, 60 dst ... 1200 kg/ha

Kieserite
Bulan ke 6, 12, 18, 24, 30 & 36 ... 75 kg/ha
Bulan ke 42, 48, 54, 60 dst ... 600 kg/ha

Borax
Bulan ke 6, 12, 18, 24, 30 & 36 ... 20 kg/ha
Bulan ke 42, 48, 54, 60 dst ... 40 kg/ha

NB. : Pemberian pupuk pertama sebaiknya pada awal musim hujan (September - Oktober) dan kedua di akhir musim hujan (Maret- April). 
POC NASA

a. Dosis POC NASA mulai awal tanam :
0-36 bln ... 2-3 tutup/ diencerkan secukupnya dan siramkan sekitar pangkal batang, setiap 4 - 5 bulan sekali
>36 bln ... 3-4 tutup/ diencerkan secukupnya dan siramkan sekitar pangkal batang, setiap 3 – 4 bulan sekali

b. Dosis POC NASA pada tanaman yang sudah produksi tetapi tidak dari awal memakai POC NASA
Tahap 1 : Aplikasikan 3 - 4 kali berturut-turut dengan interval 1-2 bln. Dosis 3-4 tutup/ pohon
Tahap 2 : Aplikasikan setiap 3-4 bulan sekali. Dosis 3-4 tutup/ pohon

Catatan: Akan Lebih baik pemberian diselingi/ditambah SUPER NASA 1-2 kali/tahun dengan dosis 1 botol untuk + 200 tanaman. Cara lihat Teknik Penanaman (Point 3.2.3.)

3.3.4. Pemangkasan Daun
Terdapat tiga jenis pemangkasan yaitu:

a. Pemangkasan pasir
Membuang daun kering, buah pertama atau buah busuk waktu tanaman berumur 16-20 bulan.

b. Pemangkasan produksi
Memotong daun yang tumbuhnya saling menumpuk (songgo dua) untuk persiapan panen umur 20-28 bulan.

c. Pemangkasan pemeliharaan
Membuang daun-daun songgo dua secara rutin sehingga pada pokok tanaman hanya terdapat sejumlah 28-54 helai. 

3.3.5. Kastrasi Bunga
Memotong bunga-bunga jantan dan betina yang tumbuh pada waktu tanaman berumur 12-20 bulan. 

3.3.6. Penyerbukan Buatan
Untuk mengoptimalkan jumlah tandan yang berbuah, dibantu penyerbukan buatan oleh manusia atau serangga. 

a. Penyerbukan oleh manusia
Dilakukan saat tanaman berumur 2-7 minggu pada bunga betina yang sedang represif (bunga betina siap untuk diserbuki oleh serbuk sari jantan). Ciri bunga represif adalah kepala putik terbuka, warna kepala putik kemerah-merahan dan berlendir. 

Cara penyerbukan:
1. Bak seludang bunga.
2. Campurkan serbuk sari dengan talk murni ( 1:2 ). Serbuk sari diambil dari pohon yang baik dan biasanya sudah dipersiapkan di laboratorium, semprotkan serbuk sari pada kepala putik dengan menggunakan baby duster/puffer. 
b. Penyerbukan oleh Serangga Penyerbuk Kelapa Sawit
Serangga penyerbuk Elaeidobius camerunicus tertarik pada bau bunga jantan. Serangga dilepas saat bunga betina sedang represif. Keunggulan cara ini adalah tandan buah lebih besar, bentuk buah lebih sempurna, produksi minyak lebih besar 15% dan produksi inti (minyak inti) meningkat sampai 30%. 

3.4. Hama dan Penyakit

3.4.1. Hama

a. Hama Tungau
Penyebab: tungau merah (Oligonychus). Bagian diserang adalah daun. Gejala: daun menjadi mengkilap dan berwarna bronz. Pengendalian: Semprot Pestona atau Natural BVR.

b. Ulat Setora
Penyebab: Setora nitens. Bagian yang diserang adalah daun. Gejala: daun dimakan sehingga tersisa lidinya saja. Pengendalian: Penyemprotan dengan Pestona.

3.4.2. Penyakit

a. Root Blast
Penyebab: Rhizoctonia lamellifera dan Phythium Sp. Bagian diserang akar. Gejala: bibit di persemaian mati mendadak, tanaman dewasa layu dan mati, terjadi pembusukan akar. Pengendalian: pembuatan persemaian yang baik, pemberian air irigasi di musim kemarau, penggunaan bibit berumur lebih dari 11 bulan. Pencegahan dengan pengunaan Natural GLIO.

b. Garis Kuning
Penyebab: Fusarium oxysporum. Bagian diserang daun. Gejala: bulatan oval berwarna kuning pucat mengelilingi warna coklat pada daun, daun mengering. Pengendalian: inokulasi penyakit pada bibit dan tanaman muda. Pencegahan dengan pengunaan Natural GLIO semenjak awal.

c. Dry Basal Rot
Penyebab: Ceratocyctis paradoxa. Bagian diserang batang. Gejala: pelepah mudah patah, daun membusuk dan kering; daun muda mati dan kering. Pengendalian: adalah dengan menanam bibit yang telah diinokulasi penyakit. 

Catatan : Jika pengendalian hama penyakit dengan menggunakan pestisida alami belum mengatasi dapat dipergunakan pestisida kimia yang dianjurkan. Agar penyemprotan pestisida kimia lebih merata dan tidak mudah hilang oleh air hujan tambahkan Perekat Perata AERO 810, dosis + 5 ml (1/2 tutup)/tangki. Penyemprotan herbisida (untuk gulma) agar lebih efektif dan efisien dapat di campur Perekat Perata AERO 810, dosis + 5 ml (1/2 tutup)/tangki . 

3.5. Panen

3.5.1. Umur Panen
Mulai berbuah setelah 2,5 tahun dan masak 5,5 bulan setelah penyerbukan. Dapat dipanen jika tanaman telah berumur 31 bulan, sedikitnya 60% buah telah matang panen, dari 5 pohon terdapat 1 tandan buah matang panen. Ciri tandan matang panen adalah sedikitnya ada 5 buah yang lepas/jatuh dari tandan yang beratnya kurang dari 10 kg atau sedikitnya ada 10 buah yang lepas dari tandan yang beratnya 10 kg atau lebih. 

TEKNIS BUDIDAYA CABE ORGANIK NASA





LIFLET TEKNIS BUDIDAYA CABE



Teknis Budidaya Cabai Teknologi NASA

Pada kesempatan kali ini akan kami sajikan cara budidaya yang praktis pada tanaman cabai dengan menggunakan produk Nasa sebagai pendukung disertai gambar dari masing-masing bagian pembahasan. Cara budidaya cabe disini dibuat secara umum, baik itu cabai rawit, cabe merah besar ataupun cabe merah keriting.

MEDIA SEMAI

Persiapan Media Semai

  1. Campurkan ± 1-2 pack Natural GLIO dalam ± 25-50 kg pupuk kandang, lalu peram ± 1-2 minggu sebagai bahan campuran media semai
  2. Komposisi media semai yang akan digunakan terdiri atas tanah, pupuk kandang dan pasir dengan komposisi sebanding (1:1:1).
TEKNIS PEMBIBITAN

Pembibitan Cabai

  1. Kebutuhan benih cabe sekitar 10-11 sachet/ha
  2. Lakukan perendaman benih dengan larutan ± 2-4 cc POC NASA /liter air hangat selama ± 2 jam
  3. Tiriskan dan peram ± 2-4 hari, benih yang berkecambah segera disemaikan
  4. Semprotkan POC NASA ± 2-4 tutup botol/tangki pada bibit usia 7 dan 14 hss (hari setelah semai)
PENGOLAHAN PADA BUDIDAYA CABE

Pengolahan lahan dan Pemupukan Dasar

  1. Taburkan pupuk kandang (± 5-10 ton/ha) dan Dolomit (± 200-300 kg/ha) di lahan
  2. Lakukan olah tanah
  3. Buat bedengan (tinggi ± 40 cm dan lebar ± 100 cm) dengan drainase yang cukup
  4. Campurkan SUPERNASA sebanyak 3-6 kg/ha bersama pupuk TSP ± 150 kg/ha) lalu taburkan secara merata di bedengan. Kemudian tebarkan GLIO (yang sudah dicampur pupuk kandang) ke permukaan bedengan (aplikasi ± 1 minggu sebelum tanam)
  5. Tutup bedengan dengan mulsa
Proses Pindah Tanam
  1. Buatlah lubang tanam dengan jarak 60 cm x 60 cm atau 70 c, x 70 cm.
  2. Tanamkan bibit umur ± 21-30 hari / 5-6 daun.

Perlu diperhatikan bahwa saat melepas polybag, bola tanah jangan sampai pecah agar tanaman tidak stress.

Pemupukan dan Pemeliharaan Tanaman

Pemupukan Makro Susulan (Urea, ZA, dan KCL)

Usia 1 – 4 minggu
UreaZAKCLPOWER NUTRITIONInterval
± 10 sdm± 10 sdm± 10 sdm± 5-10 sdm1 minggu
Cara Aplikasi: Campurkan ± 50 liter air, siramkan ± 1 gelas per lubang tanam (± 200cc)
Usia 5 minggu dan seterusnya
UreaZAKCLPOWER NUTRITIONInterval
± 10 sdm± 20 sdm± 20 sdm± 10-20 sdm1 minggu
Cara Aplikasi: Campurkan ± 50 liter air, siramkan ± 2-3 gelas per lubang tanam (± 400-600cc)
PEMUPUKAN CABE

Pemupukan POC NASA, HORMONIK, dan AERO810


  1. Usia 2 minggu dan seterusnya (interval 1-2 minggu):
  2. Semprotkan POC NASA ± 3-5 tutup/tangki + HORMONIK ± 1 tutup/tangki + AERO ± ½ tutup/tangki (Volume tangki ± 10-17 liter) dengan kebutuhan  ± 20-30 tangki/hektar.
  3. Penyemprotan dilakukan dari atas dan bawah permukaan daun
Keterangan:
Pemasangan ajir dan tali penguat sebaiknya dilakukan saat usia sekitar 15 hari setelah tanam
Perempelan
Sisakan ± 2-3 cabang utama mulai umur 15-30 hari

Pengamatan Hama & Penyakit Cabai

Hama Yang Sering Menyerang Tanaman Cabai


1. Hama Ulat
a. Jenis ulat

Hama ulat yang sering menyerang tanaman cabai terdiri dari ulat grayak (Spodoptera litura),Helicoverpa sp. dan Spodoptera exigua. Untuk jenis ulat grayak ini memakan daun tanaman cabai sedangkan Helicoverpa sp. dan Spodoptera exigua menyerang buah cabai baik masih hijau atau sudah merah.
b. Pola serangan
Secara umum serangan ulat ini terjadi pada malam hari atau pada saat sinar matahari teduh, misalnya menjelang sore hari. Menurut informasi, ternyata si ulat tidak nyaman menyantap daun atau cabe di bawah terik matahar. Sedangkan pada waktu siang hari yang terik , mereka bersembunyi di bawah ketiak daun, pangkal tanaman atau dibalik mulsa, sehingga mereka nyaman dan aman dari sengatan sinar matahari dan selamat dari penyemprotan bila dilakukan penyemprotan.
c. Pengendalian
  • Pada malam hari, pada saat ulat keluar dari persembunyiannya, ulat bisa diambil secara langsung dari tanaman cabe untuk dimusnahkan
  • Penyemprotan pada sore atau malam hari dengan Natural BVR atau PESTONA agar effektif disaat ulat keluar dari persembunyiannya

2. Hama Kutu Daun

Kutu daun yang sering menyerang cabai adalah jenis Aphids sp. dan Myzus persicae, mereka akan menghisap cairan dalam daun sampai habis. Akibatnya daun mengering dan keriting
a. Pola Serangan
Selain menghisap cairan dalam daun, hama ini sering membawa penyakit lain. Kutu daun mengeluarkan cairan berwarna kuning kehijauan yang mengundang datangnya semut dan jamur hingga menimbulkan lapisan hitam seperti jelaga di permukaan daun.
b.  Pengendalian
  • Secara teknis, daun yeng terserang dipetik dan musnahkan. Hindari menanam cabe yang berdekatan dengan tanaman semangka, melon dan kacang panjang. Perhatikan juga kebersihan kebun.  Penggunaan mulsa perak juga cukup effektif untuk mengendalikan hama ini.
  • Lakukan penyemprotan dengan BVR atau PESTONA di sore hari agar effektif.

3. Hama Thrips (Trips)

a. Gejala serangan
Ciri-ciri dari tanaman cabe yang terserang trips (Thrips parvipinus) pada daunnya akan terlihat garis-garis keperakan, terdapat bercak-bercak kuning hingga kecoklatan dan pertumbuhannya kerdil. Bila dibiarkan daun akan kering dan mati. Serangan trips biasanya menghebat pada musim kemarau. Hama ini juga berperan sebagai pembawa virus dan mudah sekali menyebar.
b. Pengendalian
  • secara  teknis bisa dengan memanfaatkan predator alami hama ini, seperti kumbang dan kepik. Pemakaian mulsa dan menjaga kebersihan kebun effektif menekan perkembangannya. Selain itu, rotasi tanaman membantu mengendalikan hama jenis ini.
  • Penyemprotan dilakukan bila serangan meluas. Gunakan BVR atau PESTONA.

4.  Hama Tungau

Serangan tungau kuning (Polyphagustarsonemus), atau tungau merah (Tetranycus sp.) akan menyebabkan daun keriting melinting ke bawah seperti bentuk sendok terbalik.  Daun akan kaku dan tebal, pertumbuhan pucuk menjadi terhambat, daun perlahan akan berubah warna menjadi coklat dan akhirnya mati.
a. Pola Serangan dan Penyebaran
Serangan banyak terjadi pada musim kering, di area teduh. Populasi akan meningkat jika kita terlalu banyak menggunakan pestisida atau pupuk daun kimia buatan yang banyak mengandung belerang (sulfur). Penyebaran dapat terjadi melalui tangan para pekerja atau terbawa angin.
b. Pengendalian
  • Secara teknis lakukan pencabutan tanaman cabe yang sudah terserang parah sedangkan yang belum parah dipotong pucuk-pucuknya. Sisa tanaman yang terserang dibakar agar tidak menjangkiti yang lain. Untuk mencegahnya, usahakan areal penanaman cabe tidak berdekatan dengan tanaman singkong. Menjaga kebersihan kebun ternyata effektif mengurangi serangan tungau.
  • Lakukan penyemprotan dengan BVR atau PESTONA

5. Hama Lalat Buah

Serangan hama ini dapat menyebabkan buah menjadi rontok dan dapat menyebabkan kita gagal panen.
a. Pola Serangan
  • Hama Lalat buah (Bactrocera dorsalis, B. cucurbitae, B. carambolae) ini dapat bersumber dari buah yang terinfeksi, adanya kepompong di dalam tanah, dari tanaman inang seperti mentimun, belimbing, maupun berasal dari tanaman cabe berdekatan yang sudah terserang
  • Penyebaran dan penularan sangat mudah terjadi karena lalat merupakan salah satu jenis insect (serangga) yang aktif terbang apalagi pada saat terjadinya peralihan musim.
  • Serangan biasanya terjadi setelah agak siang, yaitu setelah tanaman kering dari embun pagi.
b. Pengendalian
  • Buah cabe yang sudah rontok atau akan rontok (sudah terserang) dipungut dan dimusnahkan dengan dibakar.  Hal ini dilakukan untuk mencegah dan memutus rantai penularan.  Dalam cabe yang sudah terserang akan banyak mengandung pupa lalat yang nantinya akan memperparah serangan.  Hindari pula menanam cabe terlalu berdekatan dengan tanaman buah misalnya mangga atau belimbing karena tanaman buah juga menjadi target serangan lalat.
  • Gunakan perangkap lalat Natural Metilat Lem.

Penyakit yang Sering Menyerang Tanaman Cabai

Penyakit-penyakit yang menyerang tanaman cabai bisa disebabkan oleh virus, bakteri maupun jamur yang sering dibawa dari benih maupun oleh hama.

1. Penyakit Busuk Buah Antraknosa (Patek)

a. Pola Serangan dan Penyebaran
  • Sumber penyakit ini disebabkan oleh cendawan Colletotrichum capsici danColletotrichum gloeosporioides. Sumbernya dapat berasal dari sisa tanaman sakit atau dari benih yang sudah terinfeksi.  Akibatnya serangan dapat terjadi mulai pada fase pembibitan.  Penyakit ini menyebabkan kecambah layu saat disemaikan. Sedangkan pada fase dewasa serangan menyebabkan mati pucuk, serangan pada daun dan batang menyebabkan busuk kering. Sementara itu, serangan pada buah akan menyebabkan buah menjadi busuk seperti terbakar.
  • Penyebaran bisa terjadi melalui tangan para pekerja, percikan air, hujan dan angin serta tangan pemetik buah.
b. Pengendalian
  • Buah yang terserang dikumpulkan dan dimusnahkan. Pada waktu panen dipisahkan.
  • Serangan berat, sebari dengan Natural GLIO di bawah tanaman.

2. Penyakit Bercak Daun

a. Pola Serangan
  • Penyakit bercak daun yang menyerang tanaman cabe disebabkan oleh jamur Cercospora capsici. Ciri-ciri tanaman yang terserang ditandai dengan  terdapatnya  bercak-bercak bundar berwarna abu-abu dengan pinggiran coklat pada daun. Bila serangan menghebat daun akan berwarna kuning dan akhirnya berguguran. Penyakit ini biasanya menyerang pada musim hujan dimana kondisi kelembaban cukup tinggi.
  • Penyakit ini menyebar saat jamur masih berupa spora dan bisa dibawa oleh angin, air hujan, hama vektor, dan alat pertanian. Spora jamur juga bisa menempel pada benih atau biji cabe.
b. Pengendalian
  • Pengendalian terbaik adalah dengan melakukan pencegahan. Pencegahan terhadap penyakit ini dapat dilakukan dengan memilih benih yang sehat bebas patogen.
  • Merenggangkan jarak tanam juga berguna meminimalkan serangan agar lingkungan tidak terlalu lembab.
  • Pengendalian teknis bisa dilakukan dengan memusnahkan tanaman yang terinfeksi dengan cara dibakar.

3. Penyakit Layu

Serangan penyakit layu ini sangat ditakuti karena sangat sulit dikendalikan.  Penyakit layu ini  bisa ditumbulkan oleh beragam penganggu tanaman seperti berbagai jenis cendawan dan bakteri. Terdapat dua jenis penyakit layu, yaitu layu fusarium dan layu bakteri.

a. Layu Fusarium

  • Layu fusarium adalah penyakit layu yang disebabkan oleh cendawan. Jenis cendawannya adalahFusarium sp., Verticilium sp. dan Pellicularia sp.
  • Cendawan ini hidup di lingkungan yang masam
  • Layu fusarium dapat bersumber dari sisa  tanaman sakit atau tanah.  Penularan dapat melalui aliran air dan tanah
  • Beberapa pemicu perkembangan penyakit layu fusarium  : tanah berpasir, pupuk N (ZA) yang terlalu terlalu tinggi, kandungan unsur Mn dan Fe dalam tanah terlalu tinggi,  kurang pupuk organik bokashi, tanah kekurangan calsium (Ca), dan jumlah nematoda yang tinggi

b. Layu Bakteri

  • Sedangkan layu bakteri disebabkan oleh bakteri Ralstonia solanacearum. Bakteri ini hidup di jaringan batang.
  • Penyakit ini bersumber dari tanah
  • Cara menular sama dengan layu fusarium
  • Pemicu perkembangan penyakit layu bakteri dapat disebabkan oleh : lahan yang terlalu basah,  tanah terlalu liat, penggunaan pupuk N (urea) terlalu tinggi, populasi nematoda yang tinggi, atau sebelumnya lahan ditanami tembakau, terung, tomat, atau cabe yang pernah terserang.
Pengendalian
  • Tanaman yang layu dimusnahkan
  • Untuk mengurangi penyebaran, sebarkan Natural GLIO.

4. Penyakit Keriting Daun atau Mosaik

Asal serangan penyakit mosaik adalah virus Cucumber Mosaic Virus (CMV). Gejalanya, pertumbuhan menjadi kerdil, warna daun belang-belang hijau tua dan hijau muda, ukuran daun lebih kecil, tulang daun akan berubah menguning. Penyakit ini bisa menyebar dan menular ke tanaman lain oleh aktivitas serangga.
Pengendalian:
  • Pemilihan benih tahan virus membantu menghindari resiko serangan penyakit ini.
  • Bibit yang terserang dicabut dan dibakar
  • Semprot vektor (serangga pembawa) virus dengan BVR atau PESTONA.

5. Penyakit Virus Kuning

Penyakit ini disebabkan oleh Gemini virus  Tanaman cabe yang terserang virus kuning, daun dan batangnya akan terlihat menguning (sesuai dengan namanya..). Penyakit ini disebut juga penyakit bule atau bulai. Penyakit ini bisa dibawa dari benih atau biji dan ditularkan oleh kutu. Sumbernya bisa dari gulma, atau tanaman sakit lainnya (cabai, tomat)
Pengendalian: Sama dengan pengendalian penyakit keriting daun

6. Penyakit Busuk Batang, Akar dan Buah

  • Terdapat dua macam penyakit busuk yang biasa menyerang tanaman cabe, yakni busuk batang dan busuk kuncup. Busuk batang pada tanaman cabe disebabkan oleh Phytophthora capsici. Menyerang saat musim hujan dan penyebarannya sangat cepat.
  • Busuk kuncup disebabkan oleh cendawan Choanosearum sp. Penyakit ini masih jarang dijumpai di Indonesia. Gejalanya, kuncup tanaman berwarna hitam dan lama kelamaan mati.
Pemicu perkembangan penyakit ini dapat berupa :
  • drainase yang kurang baik
  • penggunaan pupuk N (Urea) yang  terlalu tinggi
  • pupuk kandang tidak matang (sebaiknya pakai pupuk bokashi)
  • jumlah nematoda yang terlalu banyak
  • sebelumnya lahan ditanam cabe atau mentimun
Pengendalian:
  • Penyakit ini bisa dikendalikan dengan mengurangi dosis pemupukan Nitrogen seperti urea dan ZA.
  • Mengatur jarak tanam agar sirkulasi udara berjalan lancar.
  • Tanaman yang sudah terinfeksi sebaiknya dicabut dan dibakar.
  • Penggunaan Agensia Hayati Natural GLIO.
Itulah beberapa jenis hama dan penyakit yang sering menyerang tanaman cabai di Indonesia. Sebagai langkah pencegahan terhadap serangan hama dan penyakit tanaman cabai tersebut bisa dilakukan beberapa hal berikut ini:
  1. Semprot PENTANA 3-5 tutup/tangki atau PESTONA 5-10 tutup/tangki + AERO ½ tutup/tangki (sebaiknya dilakukan rutin tiap 5-10 hari)
  2. Semprot BVR ± 30 gr/tangki (diselang-seling dengan aplikasi PENTANA atau PESTONA, interval 5-10 hari)
  3. Pasang perangkap METILAT LEM.

Fase Panen dan Pasca Panen
  1. Pemanenan
    • Panen pertama sekitar umur 60-75 hari
    • Panen kedua dan seterusnya 2-3 hari dengan jumlah panen bisa mencapai 30-40 kali atau lebih tergantung ketinggian tempat dan cara budidayanya
  2. Cara Panen
    • Buah dipanen tidak terlalu tua (kemasakan 80-90%)
    • Pemanenan yang baik dilakukan pagi hari setelah embun kering
    • Penyortiran dilakukan sejak di lahan
    • Simpan ditempat yang teduh







    ------------------------------------------------------------------------


    PAKET PUPUK BUDIDAYA CABAI ORGANIK NASA UNTUK LUAS 1000 M2



    HARGA Rp 235.000



    BERAT 1700 GRAM


    ISI PAKET
    1 botol SUPERNASA 250 gram
    1 botol POWER NUTRITION 250 gram
    1 botol PUPUK ORGANIK CAIR NASA (POC NASA) 500 ml
    1 botol HORMONIK 100 ml
    1 botol GLIOCLADIUM 100 gram

    BELI LANGSUNG HUBUNGI

    HP : 85225744577

    BBM : PIN 5B62EFEB

    BUKALAPAK

    TOKOPEDIA

    DETAIL TEKNIS BUDIDAYA KUNJUNGI : 




    YOUTUBE :


    VIDEO TUTORIAL











    PRODUK PERTANIAN


    PRODUK PETERNAKAN


    PRODUK PERIKANAN


    PRODUK PERKEBUNAN


    PRODUK PESTISIDA


    PRODUK ALAT RUMAH TANGGA


    PRODUK KESEHATAN


    PRODUK CRYSTAL X


    ORDER CEPAT


    Formulir Kontak

    Nama

    Email *

    Pesan *

    HUBUNGI KAMI



    PROFIL P.T. NASA